Asal muasal Bahasa arab

Pendahuluan

      Bahasa pada hakekatnya merupakan alat untuk menyampaikan buah pikiran dan perasaan kepada orang lain, apakah itu berupa bunyi ataupun berupa tulisan. Setiap bahasa memiliki ciri-ciri khas masing-masing yang membedakan dengan bahasa lain, baik dari segi tata bahasanya maupun dari segi kuantitas masyarakat penuturnya.

        Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa mayor di dunia memiliki setumpuk keistimewaan dari ciri khas tersendiri yang membedakan dengan bahasa yang lainnya. Bahasa Arab sebagaimana bahasa-bahasa lain memiliki asal-usul sejarah dan perkembangan. Bahasa Arab mula-mula berasal, tumbuh dan berkembang di Negara-negara kawasan timur tengah.

Asal Muasal Bahasa Arab

    Bahasa Arab merupakan rumpun dari bahasa Semit dan mempunyai anggota penutur yang terbanyak. Bangsa Semit berikut bahasanya dinisbahkan dari putra Nabi Nuh yang bernama Sam ibn Nuh. Garis keturunan Sam inilah yang melahirkan berbagai bangsa dan bahasa, di antaranya bangsa ‘Akkadiyyah, Kan‘an, Ethopiah, Arab dan sebagainya. Namun seiring dengan perjalanan umat manusia dari sekian rumpun bahasa Semit, yang tersisa sampai sekarang hanyalah bahasa Arab, bahasa yang telah memberi pengaruh yang cukup besar dalam sejarah peradaban umat manusia, terutama disaat memasuki abad ke VI masehi.

    Bahasa-bahasa Semit dapat dibagi menjadi dua bahagian, yaitu bahasa Semit Utara, yang terdiri dari bahasa-bahasa Akkadiyah, bahasa Babilonia, bahasa Kan’an dan bahasa-bahasa Aramiah. Sedang bahasa Semit selatan terdiri bahasa mesir (Mesir kuno dan koptik), bahasa-bahasa Barbar yang dipergunakan penduduk asli Afrika Utara, seperti Tunisia, Aljasair, Maroko, Sahara dan sekitarnya serta bahasa Kusyitik, yaitu bahasa penduduk asli bagian timur Afrika seperti bahasa Somalia, Galla, Bedja, Dankali, Agaw, Afar, Sidama dan lain-lain.

    Adapun rumpun bahasa Tarania meliputi kelompok –kelompok bahasa, yaitu bahasa-bahasa Tunisia yang terdiri dari bahasa Turki, Mongolia dan Manmair, bahasa Jepang, bahasa Cina, bahasa Korea, Kaukasia, bahasa Sudan, bahasa Melayu Polinesia (termasuk bahasa Indonesia).

    Berbagai macam bahasa yang telah disebutkan diatas sebenarnya berasal dari satu bahasa. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa-bangasa yang mengucapkannya juga berasal dari satu keturunan. Hanya saja berpisah antara satu dengan yang lainnya dan membentuk satu bangsa. Dengan perpisahan antara satu dengan yang lainnya, mengakibatkan pembentukan bahasa pergaulan tersendiri yang sudah tidak persis sama dengan bahasa induknya. Akan tetapi hal itu pun tentu dengan proses yang panjang.

Perkembangan Bahasa Arab

    Penamaan bahasa yang bersumber dari bahasa Semit sebenarnya muncul dengan kemunculan bangsa-bangsa yang berasal dari keturunan bangsa Semit itu sendiri, maka muncullah bahasa-bahasa ‘Akkadiyah( Abad XX SM) yaitu bahasa yang dipergunakan oleh bangsa Asyuriah dan Babilonia, Bahasa-bahasa Aramiyah (Abad IX SM) dan Abbariyah ( sebelum abad XX SM) Finikiyah (Abad XII SM). Begitu pula muncul bahasa-bahasa Arab, bahasa Yaman Kuno dan bahasa Habsyi. Bahasa Arab lahir dari sebuah rumpun bahasa yang bernama Semit, sebelum datangnya agama Kristen, para peneliti tidak dapat menemukan apapun karena tidak ada bukti dokumen tertulis berupa teks-teks. Kelangkaan teks-teks Arab itu karena meluasnya buta huruf (‘ummiyyah) dikalangan bangsa arab sebelum Islam datang. Namun tidak berarti sebelum datangnya agama Kristen bahasa Arab belum ada. Tidak pula berarti bahwa bahasa Arab lebih mudah dibanding dengan bahasa ‘Ibrani dan bahasa-bahasa Semit lain. Bahasa Arab mewarisi dan memelihara unsur-unsur bahasa bahasa Semit asal, berbeda dengan bahasa ‘Ibrani sangat banyak memperbaharui diri dan itu semakin menjauh dari persamaan dengan bahasa Semit asal.

    Bahasa Arab sama halnya dengan bahasa-bahasa Yaman Kuno, bahasabahasa Habsy Semit adalah berasal dari satu induk yang sama yakni bahasa bangsa Semit yang berdiam disebelah selatan, tepatnya diwilayah Irak, dengan demikian hubungan bahasa Arab dengan bahasa Semit sangat kuat. Lain halnya dengan bangsa Semit yang ada di utara sangat berbeda dengan bahasa Arab dari berbagai aspek, seperti asal-usul kata, Aswaat dan qawaid-nya. Sedangkan bahasa–bahasa Yaman Kuno dan bahasa-bahasa habsy–Semit sangat kuat dan lebih dekat dengan bahasa Semit selatan dibanding dengan bahasa Arab. 

    Bahasa Arab secara tertulis masih sangat sedikit jika dibanding dengan bahasa yang lain, sehingga periodisasi bahasa Arab dan kesusasteraannya hanya terbatas pada zaman jahiliah, masa munculnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, masa Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, kemunduran dan periode moderen.13 Dan yang diperpegangi oleh para ahli, tentang perkembangan bahasa Arab pada masa pra Islam (jahiliyah) adalah nukilah puisi-puisi yang dikembangkan pada zaman tersebut yang dipindahkan dari generasi kegenerasi.

    dari penjelasan-penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa arab itu terbagi menjadi dua bagian  yaitu

1. Bahasa Arab Baidah

        Bahasa Arab Baidah atau incrips adalah bahasa Arab prasasti, yang biasa juga disebut dengan istilah Arabiyah al-Nuqusy, karena informasi tentang bahasa ini hanya diperoleh melalui tulisan pada prasasti atau lempengan batu. Bahasa Arab Baidah yang berdiam disebelah utara Hijaz atau negeri yang berdekatan Aramiah, dialek bahasa yang dipergunakan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pertama, dialek Lihyaniyah yang dinisbahkan dari nama kabilah atau suku Lihyan yang tinggal dibagian utara daerah Hijaz beberapa abad sebelum masehi. Para ahli berdeda pendapat tentang asal mula suku itu dan tanggal prasasti-prasastinya pun tidak diketahui secara pasti. Hanya diperkirakan prasasti tertua setelah abad ke II atau satu sebelum masehi, dan yang termuda sekitar abad ke VI masehi. Kedua, lahjah Samudiyah yang disandarkan kepada suku Samad sebenarnya yang dikisahkan di dalam al-Qur’an secara ringkas dalam perjanjian lama, baik Yunani maupun Roma, dan mahsyur didalam sejarah jahiliyyah. Ketiga, lahjah safawiyah, prasastinya didapati di daerah Shafa’, walaupun ada juga yang terdapat didaerah lain di Harah yang terletak antara bukit dan gunung Daruz. Penulisannya diperkirakan antara abad ke III dan VI masehi. Orientalis Jerman, Enno Litman memperlihatkan bahwa rumus hurufhurufnya mendekati huruf Samad, huruf-huruf tersebut kadang-kadang dibaca dari kiri ke kanan atau sebaliknya. 

        Ketiga dialek di atas berbeda dengan bahas fushah, namun dekat dengan bahasa bahasa Sam. Bahasa Arab Baidah juga ada kemiripan dengan bahasa Aramiyah, semua yang masuk dalam kategori baidah ini telah lenyap oleh dominasi Arab Baqiyah.

2. Bahasa Arab Baqiyah

        Bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang masih dipakai oleh bangsa Arab dalam kesusasteraan, tulisan dan karangan. Bahasa ini tumbuh di negeri Hijaz dan Nejed, kemudian tersebar keseluruhan daerah daerah yang pernah memakai bahasa Semit dan Chamit, dari situlah timbul dialek-dialek yang dipergunakan pada masa kini dinegeri-negeri Hijaz, Nejed, Yaman dan daerah-daerah disekitarnya seperti Emirat Arab, Palestina, Yordania, Syiriah, Libanon, Irak, Kuwaid, Mesir, Sudan, Libia, Al-Jazair, Maroko, dan Malta.

        Bahasa Arab yang dipergunakan oleh orang-orang Arab sekarang atau yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis Nabi mulanya hanya tumbuh dan berkembang di wilayah Nejed dan Hijaz, namun selanjutnya menyebar ke berbagai daerah, seperti yang telah disebutkan, itu karena adanya Islam yang memberikan pengaruh yang sangat luas terutama setelah diadakan perluasan wilayah kekuasaan. Bahasa Arab Baqiyah dipakai dalam pergaulan sehari-hari, berdagang, bermasyarakat dan dalam pemerintahan. Bahasa Arab ini bisa bertahan dan tidak lenyap seperti saudara saudaranya-baca: yang serumpun- adalah tidak lepas dari pengaruh dan peran Islam saat itu. Dimana ajaran utama Islam, al-Qur’an menggunakan bahasa Arab Baqiyah. Dengan sendirinya kaum muslimin waktu itu berusaha mengetahui bahasa Arab, bagi yang bukan penutur bahasa Arab Baqiyah yang selanjutnya bahasa Arab menjadi warna dalam pergaulan mereka sehari-hari. Sehingga bahasa-bahasa sebelumnya yang juga diapakai tidak lagi dipergunakan, disamping faktor agama juga faktor politik, otomatis bahasa lainnya akan mati dengan sendirinya karena tidak ada lagi pemakainya. Dalam teori bahasa diakatakan bahwa suatu bahasa bisa hidup jika dihidupkan oleh penuturnya dan sebaliknya ia akan mati disaat ia ditinggalkan oleh penuturnya (tidak dipergunakan lagi sebagai bahasa Komunikasi). 

        Para pengguna bahasa Arab di seputar jazirah Arab mempunyai dialek yang bermacam-macam diantaranya dialek Quraiys, Huzail, Saqil, hawasin, Kinanah, Taman dan Yaman.18 Dialek-dialek ini terus dipergunakan hingga datang Islam bahkan masing-masing suku menggunakan dialek mereka disaat membaca al-Qur’an hingga akhirnya Khalifah Usman bin Affan menyatukan bacaan umat dalam satu lahjah yakni lahjah Quraiys, penyatuan bacaan umat pada waktu itu dengan lahjah Quraiys karena kota Makkah, dimana dialek Quraiys yang dipakai mempunyai letak geografis yang cukup strategis dibanding daerah lainnya, begitu juga Makkah menjadi kota religius dimana Nabi Muhammad SAW. dilahirkan dan tempat untuk umat Islam melaksanakan ibadah haji, dan tentu saja pertemuan antara dialek pun terjadi, namun dialek (lahjah) Quraiys tetap jadi pedoman. 

         Al-Qur’an sebagai bahasa standar diterima dan dicintai oleh masyarakat awam karena selain mempunyai makna yang dalam, juga susunannya sangat indah dan bagus, hal ini menjadi aset terjalinnya antara bahasa Arab dengan Islam yang selanjutnya dijadikan sebagai bahasa agama dan budaya Islam. Pada masa pemerintahan Umar (13-23H) daerah kekuasaan Islam semakin meluas maka bercampurlah antara pendatang (orang Arab) dengan penduduk asli, namun pendatang masih terisolir. Namun pengisolasian ini menumbuhkan persatuan diantara sesama pendatang yang berkelanjutan dengan persaingan dalam pergolakan ilmu bahasa, dan bahasa Arab sebagai bahasa pemenang sudah barang tentu mempunyai kedudukan yang mulia dan terhormat.

        Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, pendatang mulai berasimilasi dengan penduduk asli di seluruh lapisan masyarakat mulai dari pemerintahan sampai kepada budak. Dengan hasil asimilasi ini menghasilkan bahasa baru yang merupakan perpaduan dari bahasa Arab dengan bahasa setempat. Walaupun bahasa baru ini muncul, namun bahasa Arab masih tetap dalam kelas arsitokrat (kelas mewah).

        Pada masa Umayyah ini, ketinggian martabat sosial seseorang ditentukan oleh kemampuan mereka dalam penguasaan bahasa Arab, kesalahan kecil dalam berbahasa dianggap sebagai kesalahan besar/fatal bagi orang-orang tua mereka, maka wajar jika setiap orang menginginkan setiap putra-putrinya menguasai bahasa Arab dengan mengirim belajar bahasa pada bangsa Badui. Namun, pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, para pembesar tidak mengirim lagi putra-putri mereka untuk belajar lansung ke-orang-orang Badui, tapi hanya belajar bahasa Arab di istana, karena sebuah pemikiran agar anak-anak mereka bisa menikmati kemewahan kerajaan dan bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar. 

        Pada akhir pemerintahan Bani Umayyah, mereka melakukan pemurnian bahasa Arab yang selanjutnya dilanjutkan pada masa Abbasiyah baik orang-orang Arab maupun non Arab.

        Disisi lain, bahasa kelas menengah kebawah yang kita kenal sebagai bahasa Ammiyah (yang merupakan percampuran antara bahasa Arab dengan bahasa setempat) mulai tumbuh dan lansung membludak, dimana pada abad ke III pengaruh Ammiyah sangat kuat, sampai ditemukan dalam tulisan-tulisan ilmiyah banyak yang mempergunakan bukan bahasa Arab asli.

        Pada abad ke IV hijriah, orang-orang tidak lagi belajar lansung kepada orangorang Badui, tetapi hanya lewat karangan-karangan Badui yang sudah banyak di pasaran buku-buku.19 Bahasa Arab –baca: fusha- di abad inimasih menjadi bahasa administrasi, politik dan lain-lain, namun pada abad ke V, bahasa Arab hanya sebagai bahasa agama saja. Dimana para karangan para cendekia kadang menggunakan bahasa Persia.

        Minat untuk mempelajari bahasa al-Qur’an ini terus terkikis hingga abad ke VI. Kemerosotan ini bersamaan dengan munculnya kaum Saljuk dan berhasilnya bangsa Mongolia menduduki negara-negara Islam. Dan salah satu Negara yang tak sempat diduduki adalah Mesir, yang nantinya merupakan tempat kebangkitan bahasa Arab di zaman baru. 

        Sebagaimana kita maklumi, bahwa bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang digunakan dalam bahasa tulisan, dan bahasa sastra yang sampai kepada kita melalui syair Jahiliyah, al-Qur’an dan al-Sunnah al-Nabawiyah, yang selnjutnya disebut dengan bahasa Arab fushah. Bahasa fushah tersebut bukanlah semata-mata hanya dialek Quraisy, tetapi merupakan perpaduan dari berbagai dialek bahasa Arab.

Kesimpulan

        Dari uraian yang telah dikemukakan terdahulu tentang Asal Usul Bahasa Arab, pertumbuhan dan pembagiannya, dapat disimpulkan bahwa, Bahasa Arab adalah salah satu cabang dari sekian banyak cabang bahasa Semit yang telah berkembang sejak ribuan tahun. Bahasa Arab muncul sebagai bahasa yang berdiri sendiri, karena salah satu dari pengguna bahasa Semit awal melakukan perpindahan ke daerah-daerah lainnya, lalu membentuk bangsa sekaligus bahasa.           

        Proses evolusi yang terjadi dalam pergolakan bahasa Arab dengan bahasabahasa setempat menjadikan bahasa Arab asli menjadi bermacam-macam dialek, yang serta merta dipergunakan seseorang, dan akhirnya memasyarakat tanpa disadari dan dirasakan lansung oleh si pengguna bahasa itu. 

        Bahasa Arab yang mendiami Nejed dan Hijaz mempunyai dua kelompok bahasa, yaitu Baidah dan Baqiyah. Baidah adalah merupakan bahasa yang telah terkubur dengan masa, sedangkan Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat jahiliyah sampai zaman kita sekarang. Bahasa Arab dapat tumbuh berkembang dan berdiri sendiri, disebabkan karena banyak faktor pendukungnya, diantaranya pergaulan dan percampur-bauran antara bangsa-bangsa, juga didukung oleh berbagai unsur yang sangat potensial mengembangkan bahasa Arab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

fungsi menu review pada microsoft word

fungsi menu mailings

Fungsi menu layout dan references