A. Pengertian lahjah dialek
secara etimologi, lahjah, seperti yang ditulis oleh ibnu manzur dalam lisan al-arab, bermakna gemar dengan sesuatu, menyanyikan (menucapkan), dan membiasakannya (ibnu manzur, 1990: 132). sealur dengan makna ini, dalam kamus al-munjid disebutkan pula bahwa lahjah berarti bahasa manusia yang menjadi karakter dan dibiasakan olehnya (Ma'luf, 2002: 735).
Dari makna etimologi ini bisa dipahami bahwa dialek merupakan sebuah ragam bahasa yang lebih disenangi, lebih biasa dipraktekkan, dan lebih mudah diujarkan oleh individu-individu dari suatu komunitas bahasa tertentu dalam kehidupan keseharian mereka. Dialek bisa menjadi ciri khas seseorang atau suattu komunitas bahasa tertentu. Karenanya, dialek sebuah qobilah 'suku' menurut iskandari dan 'Anani merupakan suku bhasa tersebut yang didalamnya terdapat ujaran yang tarqiq 'menipiskan/menghaluskan', tafkhim 'menebalkan', tatmim 'menyempurnakan', dsb.
Adapun secara terminologi, lahjah 'dialek' dalam kasus longman diartikan sebagai variasi dari sebuah bahasa yang dipergunakan di suatu bagian dari sebuah negara yang variasi itu berbeda dengan variasi-variasi lainnya dari bahasa yang sama dan sejumlah kata atau gramatikanya (Longman, t.t.: 281).
B. Kemunculan berbagai macam dialek
secara umum, ada satu faktor mendasar yang menyebabkan timbulnya berbagai macam dialek dalam satu bahasa, yaitu tersebar luasnya suatu bahasa dan dipergunakannya oleh banyak orang. Sperti yang telah dijelaskan oleh Wafi, sudah menjadi ketentuan dalam undangg-undang bahwa ketika sebuah bahaa telah menyebar luas dan dipergunakannya oleh berbagai macam kelompok manusia, maka mustahil bagi bahasa tersebut untuk tetap menjaga keutuhan atau kesatuan bahasanya yang semula untuk jangka waktu yang lama.bahasa tersebut tidak lama lagi pasti akan bercerai berai menjadi berbagai macam dialek. Setiap dialek pun selanjutnya berkembang melalui jalan yang berbeda-beda. jarak perbedaan itu senantiasa melebar dan melebar diantara satu dialek dengan dialek lainnya hingga menjadi bahasa berbeda dan berdiri sendiri yang tidak dipahami kecuali oleh pemiliknya (Wafi, 1945: Wafi, t.t.: 172-173).
faktor politik sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa. hal ini bisa dibuktikan ketika sebuah negara terbagi-bagi menjadi wilayah-wilayah kecil yang berdiri sndiri. pupusnya kesatuan politik ini berimbas pada hilangnya kesatuan pola pikir dan bahasa yang sama, sehingga menimbulkan dialek-dialek yang berbeda.
faktor sosial pun tak kalah perannya daro faktor politik dalam menimbulkan dialek-dialek. orang-orang yang tinggal dalam satu masyarakat bisa berbeda-beda dalam status, pendidikan, pekerjaan. perbedaan-perbedaan ini mengkotak-kotakkan mereka dalam satu level yang berbeda dengan level lainnya, dan level-level mereka ini berpengaruh pula pada bahasa yang mereka pergunakan. misalnya di temukan perbedaan-perbedaan strata sperti strata aristokrat, pekerja, pengusaha, pedagang dan ilmuan. perbedaan strata ini mengakibatkan perbedaan ungkapan-ungkapan bahasa yang mereka pergunakan dalam keseharian mereka. ungkapan orang berpendidikan pasti berbda dengan ungkapan orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan; bahasa di lingkungan pekerjaan berlainan dengan bahasa yang dipergunakan dalam lingkungan keluarga. Adapun faktor-faktor lain yaitu Faktor geografis dan faktor kebudayaaan yang menyebabkan kemunculan berbagai macam dialek.
C. Sebab-sebab perbedaan dialek
Memang harus diakui bahwa perkembangan dialek-dialek yang timbul dari satu bahasa karena melalui proses dan pengaruh yang berbeda-beda, maka berakibat pula pada perbedaan dialek tersebut. Banyak faktor yang bisa menyebabkan suatu dialek berbeda dengan dialek lainnya. Di antara faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan itu antara lain adalah lingkungan, jauhnya tempat tinggal, sarana-sarana kehidupan, perbedaan dunia yang dilihat, perbedaan cara memahami dan berbicara (Iskandy dan ‘Anani, 1976: 14).
Dengan redaksi yang berbeda tetapi dengan makna yang sama, Daud juga menjelaskan bahwa penyebab-penyebab perbedaan dialek-dialek bahasa Arab adalah terisolirnya antara suku yang satu dengan suku yang lainnya, kurangnya sarana-sarana perhubungan di antara mereka. Selain itu, adanya cacat bawaan yang berkaitan dengan proses kebahasaan seperti tidak bisa mendengar dan mengucapkan (Daud, 2001: 33).
D. Dialek-dialek yang dianggap buruk
ciri-ciri khas masing dialek dapat dibedakan dengan melihat aspek-aspek perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh tiap-tiap dialektidak semuanya dianggap baik. ada sebagian dialek yang dianggap buruk atau cela. diantara dialek-dialek yang dianggap memiliki cacat atau cela anatara lain : 'aj'ajah dan amghamah, syamsyanah dan watm-nya, thumthamaniyah, taltalah, 'a'anah, kasyakasyah, wahm, wakm, lakhlakhanah, qat'ah dan istintha'.
E. kemenangan dialek quraisy
Salah satu poin penting: dialek Quraisy disebut sebagai “dialek pemenang” yang kemudian berperan dalam pembentukan bahasa Arab fuṣhā. Adapun Faktor-faktor kemenangan dialek Quraisy meliputi: Faktor agama yaitu suku Quraisy dekat dengan pusat keagamaan (Kaʿbah) dan berpengaruh, Faktor ekonomi yaitu mereka aktif dalam perdagangan antar daerah sehingga ragam bahasanya tersebar lebih luas, dan Faktor kekayaan bahasa yakni ragam Quraisy dianggap memiliki kosakata yang kaya, fleksibel untuk sastra.
F. Peta Dialek bahasa arab
Secara garis besar dialek-dialek Arab itu terbagi ke dalam lima kelompok besar berdasarkan wilayah. setiap kelompok punya ciri khas fonologi, morfologi, dan kosakata yang membuatnya mudah dikenali. Di bawah ini penjelasan tiap kelompok beserta ciri khas dan contoh singkat yang bisa kamu pakai sebagai label pada peta.
1) Kelompok Hijaz–Nejd (Arab Saudi bagian barat-tengah & Yaman utara)
Wilayah contoh: Hijaz (Mekkah, Madinah, Jeddah), Nejd (Riyadh), sebagian Yaman utara. Ciri khas yaitu relatif dekat dengan bahasa baku (fuṣhā) dalam struktur morfologis; kosakata tradisional Arab sangat kuat; variasi pelafalan tergantung kota vs pedalaman. Contoh fonologi/morfologi: pelestarian banyak bentuk klasik pada kata kerja dan bentuk jamak tertentu; variasi pengucapan konsonan antar subwilayah.
2) Kelompok Suriah / Syam (Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina)
Wilayah contoh: Damaskus, Beirut, Amman, Ramallah. Ciri khas yaitu pelafalan vokal yang khas (panjang-pendek vokal tampak jelas), intonasi melodis; pengaruh bahasa daerah lain di beberapa kosakata. Contoh pengenal: kecenderungan bentuk tata bahasa yang sedikit berbeda pada penggunaan partikel dan kata ganti; beberapa perubahan bunyi qāf pada dialek urban.
3) Kelompok Irak
Wilayah contoh: Baghdad, Basrah, Mosul (masing-masing punya subdialek sendiri). Ciri khas yaitu variasi vokal yang kuat, pengaruh bahasa-bahasa non-Arab (substratum, sejarah), pola jamak dan kata kerja yang berbeda dari fuṣhā. Contoh: beberapa bentuk morfologis jamak dan variasi dalam pengucapan konsonan tertentu.
4) Kelompok Mesir
Wilayah contoh: Kairo, Alexandria, Delta Nil. Ciri khas yaitu sangat berpengaruh di dunia Arab (media, film); fonologi mudah dikenali oleh penutur lain. Contoh pengenal (yang sering dipakai sebagai contoh): qāf sering direalisasikan sebagai ʔ (glottal stop) dalam dialek Kairo — mis. qahwa → ʔahwa; jīm sering dilafalkan /g/ — mis. jamal → gamal.
5) Kelompok Maghreb (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya)
Wilayah contoh: Rabat, Aljir, Tunis, Tripoli. Ciri khas yaitu jarak linguistik relatif besar terhadap fuṣhā; banyak pengaruh Berber dan bahasa Eropa (Prancis, Spanyol) sehingga kosakata dan struktur sering berbeda. Contoh: pengurangan vokal, klaster konsonan yang kuat, banyak leksikon serapan. Seringkali penutur dari Maghreb lebih sulit dimengerti oleh penutur Mashriq (Timur Tengah).
G. Kesimpulan
Dari uraian tentang dialek-dialek bahasa Arab di atas, dapat kiranya diambil pokok-pokok pembahasannya, yaitu sebagai berikut.
1. Lahjah ‘dialek’, secara etimologi berarti sesuatu yang digemari dan dibiasakan. Ia merupakan bahasa manusia yang menjadi karakter dan dibiasakannya. Adapun menurut terminologi, dialek adalah cara pemakaian bahasa yang berbeda dengan cara-cara lainnya di dalam satu bahasa karena masing-masing memiliki ciri-ciri kebahasaan yang khusus dan tiap-tiap cara ini bersama-sama (bersekutu) juga dalam membentuk ciri-ciri kebahasaan yang bersifat umum.
2. Kemunculan berbagai macam dialek dalam satu bahasa disebabkan karena tersebar dan terpakainya bahasa tersebut secara luas. Selain itu, faktor politik, sosial, letak geografis, dan kebudayaan pun ikut berperan dalam memunculkan dialek-dialek.
3. Lingkungan, jauhnya tempat tinggal, kurangnya alat perhubungan antarsuku, kurangnya interaksi antara satu suku dengan suku yang lain, dan cacat bawaan merupakan penyebab-penyebab terjadinya perbedaan dialek.
4. Aspek-aspek yang menyebabkan satu dialek sering berbeda dengan dialek lainnya adalah dalam hal suara, makna, kata dan kaidah. Adapun cara pembentukan atau proses perbedaan itu melalui, seperti ibdāl, 'irāb, binā', tashhih, 'ilāl, itmām, naqsh, idghām, fakk, dan tarāduf.
5. Dialek-dialek bahasa Arab yang dianggap buruk dan cela adalah 'aj'ajah, 'amghamah, syansyanah, want, thumthamah, 'an'anah, kasykasyah, wahm, qath'a, lakhlakhanah, dan istinthā'.
6. Dialek bahasa Arab yang paling menonjol dan mengalahkan dialek-dialek yang lain adalah dialek Quraisy. Kemenangan dialek Quraisy ini karena didukung oleh beberapa faktor, seperti agama, ekonomi, politik, dan kekayaan bahasa yang dimiliki oleh dialek Quraisy itu sendiri.
7. Dialek-dialek yang terdapat dalam bahasa Arab bisa dikelompokkan menjadi lima kelompok besar, yaitu kelompok dialek-dialek a) Hijaz–Nejd, b) Syiria, c) Irak, d) Mesir, dan e) Maroko.
Komentar
Posting Komentar