psikolinguistik
A. Sejarah psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan disiplin ilmu baru sebagai produk sinergi antara psikologi dan linguistik. Hal itu mengisyaratkan bahwa sejarah perkembangan psikolinguistik tidak dapat dipisahkan dari tokoh-tokoh psikologi yang peduli pada linguistik dan tokohtokoh linguistik yang peduli pada psikologi. Bagaimana peran dan pemikiran mereka dalam merancang dan merintis perkembangan psikolinguistik dalam kurun waktu puluhan bahkan ratusan tahun? Jawaban atas pertanyaan itulah yang dipaparkan pada bab ini.
Capaian pembelajaran dari materi ini adalah, diharapakan dapat: menjelaskan alur sejarah psikolinguistik; menjelaskan ketertarikan para pakar linguistic dan pakar psikologi dalam mengkaji aspek-aspek kebahasaan.
Psikolinguistik merupakan disiplin ilmu baru sebagai produk sinergi antara psikologi dan linguistik. Hal itu mengisyaratkan bahwa sejarah perkembangan psikolinguistik tidak dapat dipisahkan dari tokoh-tokoh psikologi yang peduli pada linguistik dan tokohtokoh linguistik yang peduli pada psikologi. Bagaimana peran dan pemikiran mereka dalam merancang dan merintis perkembangan psikolinguistik dalam kurun waktu puluhan bahkan ratusan tahun? Beberapa hal di atas berikut uraiannya.
B. Tokoh Penggiat Linguistik dan Penggiat Psikologi
Satu hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa setiap disiplin ilmu tidak bersifat tertutup. Sifat itu berarti bahwa siapa pun mempunyai hak yang sama untuk mengkaji setiap disiplin ilmu, baik dalam bentuk intradisiplin (sesuai dengan bidangnya) misalnya linguis mendalami kajian linguistik dan fisikawan mendalami fisika maupun interdisiplin ilmu (tidak sesuai dengan bidangnya) misalnya ahli psikologi tertarik pada linguistik. Kenyataan menunjukkan bahwa kajian yang bersifat interdisiplin ilmu tidak kalah maraknya dengan kajian intradisiplin ilmu. Pada akhir abad ke-19 misalnya, di negara-negara barat telah banyak pakar psikologi yang mengkaji secara mendalam bahasa dan fenomena penggunaannya. Kebalikannya, banyak pula pakar linguistik yang belajar psikologi agar pemahamannya tentang bahasa sebagai objek kajiannya makin baik. Fenomena itu tidak perlu diherani karena bahasa memang dapat dijadikan sebagai objek kajian psikologi dan linguistik.
1. Ahli Bahasa yang Tertarik pada Psikologi
Rintisan kerja sama antara psikologi dan linguistik sebenarnya sudah ada jauh sebelum psikolinguistik eksis sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Linguis Jerman Wilhelm von Humboldt (1767— 1835), misalnya, pada awal abad ke-19 telah merintis kajian tentang hubungan bahasa dan pikiran. Von Humboldt membandingkan tata bahasa dari bahasa yang berbeda dan membandingkan perilaku bangsa penutur bahasa itu. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya. Pandangan Von Humboldt tersebut, secara tidak langsung, dipengaruhi oleh aliran rasionalisme yang menganggap bahasa bukan sebagai suatu bahan yang siap untuk dipotong-potong dan diklasifikasikan sebagaimana anggapan aliran empirisme. Aliran empirisme yang berhubungan erat dengan psikologi asosiasi mengkaji bagianbagian yang membentuk suatu benda sampai yang sekecil-kecilnya dan mendasarkan kajiannya pada faktor-faktor luar yang langsung dapat diamati. Aliran ini bersifat atomistik dan sering dikaitkan dengan asosianisme dan positivisme. Berbeda dengan empirisme, aliran rasionalisme mengkaji prinsip-prinsip akal dan faktor bakat atau pembawaan yang bertanggung jawab mengatur perilaku manusia. Aliran ini mengkaji akal sebagai satu kesatuan yang utuh dan menganggap batin atau akal sebagai faktor yang penting untuk diteliti guna memahami perilaku manusia. Aliran ini dianggap bersifat holistik dan dikaitkan dengan nativisme, idealisme, dan mentalisme.
Pandangan bahwa bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya juga disampaikan oleh Edward Sapir (1884-1939), seorang sarjana linguistik dan antropologi Amerika awal abad ke20. Seperti halnya von Humbolt, Sapir juga menyertakan psikologi dalam kajian tentang bahasa. Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar yang kuat bagi kajian bahasa. Dalam kajiannya tentang hubungan bahasa dan pikiran, Sapir menyimpulkan bahwa bahasa memengaruhi pikiran manusia. Linguistik, menurut Sapir, dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi psikologi gestalt. Kebalikannya, psikologi gestalt dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi kajian linguistik.
Fenomena yang lain ditunjukkan oleh Leonard Bloomfield (1887-1949). Dalam menganalisis bahasa, linguis Amerika ini dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang bertentangan. Sebelum dipengaruhi oleh psikologi behaviorisme, ia dipengaruhi oleh psikologi mentalisme. Ketika masih dipengaruhi psikologi mentalisme, Bloomfield benpendapat bahwa bahasa merupakan ekspresi pengalaman yang lahir karena kuatnya tekanan emosi. Dalam kondisi tertentu, kuatnya tekanan emosi itu memunculkan kalimat seruan, misalnya Minggir, awas mobil lewat! Dalam kondisi yang lain, misalnya karena ingin menginformasikan hal penting, kuatnya tekanan emosi memunculkan kalimat deklaratif, misalnya Hari ini kita akan mempresentasikan proposal proyek kita di depan jajaran direksi PT Pembangunan Abadi. Dalam kondisi yang lagi, misalnya karena ingin meminta informasi, kuatnya tekanan emosi memunculkan kalimat interogatif, misalnya Kalau persoalannya demikian, bagaimana solusinya?.
2. Ahli Psikologi yang Tertarik pada Linguistik
Dalam tahap awal perkembangan psikolinguistik, apa yang dilakukan tokoh-tokoh linguistik dilakukan pula oleh tokoh-tokoh psikologi. Perbedaannya adalah tokoh-tokoh linguistik seperti Humbolt, Sapir, Bloomfield, dan Jespersen memanfaatkan psikologi untuk mengkaji dan mengembangkan linguistik, sementara tokoh-tokoh psikologi seperti Dewey, Wundt, Titchener, Pillsbury dan Meader, Watson, Buchler, Weiss, Caroll, dan lain-lain memanfaatkan linguistik untuk mengkaji dan mengembangkan psikologi. Sekalipun secara teknis apa yang mereka lakukan berbeda, mereka mempunyai semangat yang sama, yakni mereka yakin bahwa linguistik dan psikologi dapat didekatkan. Pendekatan kedua disiplin ilmu tersebut memberikan keuntungan pada kedua belah pihak. Pada satu sisi, kajian linguistik dan psikologi makin luas dan komprehensif; pada sisi lain, makin banyak masalah dalam linguistik dan psikologi yang dapat dipecahkan secara kolaboratif.
Di antara beberapa tokoh psikologi yang tertarik pada linguistik, John Dewey (1859-952) barangkali dapat diposisikan sebagai tokoh yang paling terkenal. Ahli psikologi Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelopor empirisme murni tersebut mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa anak-anak berdasarkan prinsip-prinsip psikologi. Satu di antara beberapa saran Dewey adalah bahwa penggolongan kata-kata yang diucapkan anak-anak seyogianya dilakukan berdasarkan arti kata-kata itu menurut anak-anak, bukan berdasarkan arti kata-kata itu menurut orang dewasa. Dari segi tata bahasa pun demikian. Tata bahasa untuk kalimat yang diucapkan anak-anak harus dibedakan dengan bentuk tata bahasa orang dewasa. Dengan cara tersebut, berdasarkan prinsip-prinsip psikologi, dapat ditentukan perbandingan antara bahasa anak-anak dan bahasa orang dewasa. Di samping itu, juga dapat ditentukan kecenderungan pikiran (mental) anak-anak yang dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan penggunaan bahasa. Kajian seperti itu, menurut Dewey, dapat memberikan sumbangan pemikiran yang besar pada psikologi.
Berbeda dengan Dewey yang kajiannya telah menyentuh aspek teknis, Wilhelm Wundt (1832-1920) ahli psikologi Jerman yang terkenal sebagai pendukung teori apersepsi menganggap bahwa bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan pikiran. Wundt-lah ahli psikologi yang kali pertama mengembangkan teori mentalistik secara sistematis. Dalam pandangan Bapak Psikolinguistik Klasik ini, bahasa pada mulanya lahir dalam bentuk gerak-gerik yang secara tidak sadar digunakan untuk mengungkapkan perasaanperasaan yang sangat kuat. Selanjutnya, unsur-unsur perasaan tersebut bertukar peran dengan unsur-unsur mentalitas (akal). Unsur-unsur mentalitas tersebut kemudian diatur oleh kesadaran sehingga menjadi alat pertukaran pikiran yang berwujud bahasa. Dengan demikian, menurut Wundt, setiap bahasa yang diwujudkan dalam bentuk kalimat, misalnya terdiri atas ucapan-ucapan bunyi atau isyarat-isyarat lain yang melalui gerakan otot dapat menembus pancaindera untuk menyampaikan keadaan batin, konsep, dan perasaan kepada orang lain. Teori performansi bahasa yang dikembangkan oleh Wundt tersebut didasarkan pada analisis psikologis terhadap (1) fenomena fisik yang terdiri atas produksi dan persepsi bunyi dan (2) fenomena psikis yang terdiri atas rentetan pikiran. Karena produksi dan resepsi bunyi diperformansikan atau diwujudkan dalam bentuk bahasa, Wundt berpendapat bahwa interaksi antara fenomena fisik dan fenomena psikis dapat dipahami dengan lebih baik melalui kajian struktur bahasa.
Ahli psikologi yang senegara dengan Wundt, yakni Karl Buchler, menganggap pemikiran Wundt tersebut berat sebelah. Buchler setuju bahwa bahasa mempunyai tiga fungsi, yakni ekspresi, evokasi, dan representasi; namun, menurutnya, ada fungsi lain yang tidak dapat dimasukkan ke dalam gerakan ekspresi, yakni fungsi koordinasi atau penyelarasan. Fungsi koordinasi berguna untuk mengoordinasikan (menyelaraskan) bahasa dengan isi atau kandungan makna.
Sekalipun mendapatkan tantangan, misalnya yang dilakukan oleh Buchler, teori performansi bahasa yang diperkenalkan oleh Wund tersebut kemudian berkembang luas setelah Titchener, seorang ahli psikologi asal Inggris yang bermigrasi ke Amerika, menyosialisasikannya dengan nama psikologi kesadaran atau psikologi introspeksi. Sosialisasi secara intensif psikologi introspeksi itu mendapatkan respon besar-besaran hingga memunculkan revolusi psikologi di Amerika Serikat. Pada akhirnya, berkembanglah teori behaviorisme yang menyingkirkan kesadaran atau introspeksi dari psikologi dan kajian bahasa.
Perkembangan teori behaviorisme dalam psikologi menghasilkan psikologi behaviorisme. Salah satu tokohnya, yakni Watson (1878-1958), berpandangan bahwa perilaku berbahasa pada dasarnya sama tingkatannya dengan perilaku yang lain. Dalam pandangan Watson, perilaku berbahasa tidak berbeda dengan sistem otot saraf yang berada di kepala, leher, dan bagian dada manusia. Pada mulanya, tujuan utama Watson adalah menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni berpikir, dengan perilaku berbahasa yang tersurat, yaitu bertutur. Pada akhirnya, Watson menyelaraskan perilaku berbahasa itu dengan kerangka pembiasaan respon menurut teori Pavlov. Dalam penyelarasan itu dinyatakan bahwa kata-kata diperlakukan sebagai pengganti benda-benda yang tersusun dalam suatu sisi respon yang dibiasakan.
Tokoh psikologi behaviorisme Amerika yang dikenal sealiran dengan Watson adalah Weiss. Ia mengakui adanya aspek mental bahasa, tetapi aspek itu sulit dikaji atau didemonstrasikan karena bersifat abstrak. Weiss berpandangan bahwa bahasa merupakan wujud perilaku apabila penggunaannya disesuaikan dengan lingkungan sosial. Sebagai suatu bentuk perilaku, bahasa memiliki ciri fisiologis dan sosial. Sebagai alat ekspresi, bahasa memiliki tenaga mentalitas.
C. Perkembangan psikolinguistik
Sejauh ini tentu telah dipelajari berbagai disiplin ilmu, misalnya ilmu agama, ilmu olahraga, ilmu bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial. Tiap-tiap disiplin ilmu mempunyai karakteristik yang khas sehingga tidak ada dua disiplin ilmu yang betul-betul sama, baik dari segi sejarah kemunculannya, objek kajian, maupun pendekatan yang digunakan. Sekalipun demikian, antardisiplin ilmu memiliki kesamaan, yakni sama-sama dinamis. Materi yang dikaji dalam ilmu pengetahuan alam seratus tahun yang lalu, misalnya, tidak sama dengan materi yang dikaji masa kini. Hal itu berlaku untuk semua ilmu sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak ada satu ilmu pun yang bersifat statis. Sifat dinamis ilmu mengisyaratkan bahwa dari waktu ke waktu ilmu terus berkembang. Pada satu sisi perkembangannya berbentuk meluasnya cakupan materi, pada sisi lain berbentuk sinergi dengan disiplin ilmu lain yang kemudian menjadi dasar terbentuknya disiplin ilmu baru. Psikolinguistik, misalnya, merupakan disiplin ilmu baru sebagai produk sinergi antara psikologi dan linguistik.
Terkait dengan hal tersebut, dalam materi ini diuraikan hal-hal yang berhubungan dengan pengertian/definisi psikolinguistik dan perkembangan psikolinguistik. Sejalan dengan substansi tersebut, setelah mempelajari ini diharapkan dapat menjelaskan pengertian, bidang-bidang kajian, dan perkembangan psikolinguistik.
D. Pengertian dan Bidang Kajian Psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan disiplin ilmu baru sebagai produk sinergi antara psikologi dan linguistik. Hal itu mengisyaratkan bahwa pemaknaan psikolinguistik tidak dapat dipisahkan dari pemaknaan psikologi dan linguistik. Begitu juga halnya dalam pemilahan bidang kajian psikolinguistik, pemikiran-pemikiran yang terkait dengan disiplin induknya, khususnya linguistik, tidak dapat ditinggalkan. Bagaimana sebenarnya pengertian psikolinguistik sebagai produk sinergi antara dua disiplin ilmu yang dalam realitas mempunyai orientasi yang berbeda? Berikut uraiannya.
1. Pengertian psikolinguistik
Dalam pandangan tradisional, psikologi merupakan disiplin ilmu yang diorientasikan untuk mengkaji seluk-beluk stimulus, respon, dan proses berpikir yang mendasari lahirnya stimulus atau respon. Dalam pandangan modern, psikologi merupakan disiplin ilmu yang diorientasikan untuk mengkaji proses berpikir manusia dan segala bentuk manifestasinya yang mengatur perilaku manusia secara umum. Dari kajian tersebut fenomena perilaku manusia diharapkan dapat dipahami, dijelaskan, dan diramalkan. Berbeda dengan psikologi, linguistik merupakan disiplin ilmu yang diorientasikan untuk mengkaji seluk-beluk bahasa dari segi sejarah, struktur, kaidah, penerapan, dan perkembangannya. Dari kajian tersebut fenomena bahasa diharapkan dapat dipahami dan dijelaskan secara memadai. Uraian mengenai psikologi dan linguistik tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa masing-masing mempunyai orientasi tersendiri. Dengan kata lain, psikologi dan linguistik merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda. Meskipun demikian, titik temu atau benang merahnya terlihat jelas karena keduanya menaruh perhatian yang besar terhadap bahasa, tentu saja dengan mekanisme yang berbeda.
Berdasarkan teori ini, titik temu sebagaimana yang diuraikan di atas, akhirnya disepakati munculnya disiplin ilmu baru yang merupakan kombinasi atau hasil sinergi psikologi dan linguistik, yakni psikolinguistik. Menurut Aitchison (1984), psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang berorientasi pada studi tentang bahasa dan pikiran. Secara lebih rinci, Simanjuntak (1987) menyatakan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang berorientasi pada penguraian proses-proses psikologis yang terjadi apabila seseorang menghasilkan atau memahami kalimat dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh. Pendapat dengan kerangka pikir yang berbeda dikemukakan oleh Robert Lado, Emmon Bach, dan John Lions. Menurut Lado, psikolinguistik merupakan disiplin ilmu kombinasi psikologi dan linguistik dalam studi tentang pengetahuan, penggunaan, dan perubahan bahasa serta hal-hal yang berkaitan dengannya yang tidak mudah didekati dengan salah satu dari kedua ilmu tersebut. Sementara itu, Bach dan Lions mempunyai pandangan yang kurang lebih sama, yakni bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu dengan titik tekan pada kegiatan produksi, resepsi, dan rekognisi bahasa. Di samping pendapat-pendapat tersebut, masih banyak pendapat yang lain. Chaer (2003), misalnya, menyatakan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang diorientasikan untuk menerangkan hakikat, pemerolehan, dan penggunaan struktur bahasa dan menerapkan pengetahuan linguistik, psikologi, dan masalah sosial lain yang berkaitan dengan bahasa. Berbeda dengan Chaer, Dardjowidjojo (2005) menyatakan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang diorientasikan untuk mengkaji proses-proses mental yang dilalui manusia ketika berbahasa.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu kombinasi antara psikologi dan linguistik yang diorientasikan untuk mengkaji proses psikologis yang terjadi pada orang yang berbahasa. Simpulan tersebut mengisyaratkan beberapa hal. Pertama, psikolinguistik merupakan bidang studi yang tidak dapat eksis tanpa dukungan psikologi dan linguistik. Kedua, fokus kajian psikolinguistik bukan aspek kebahasaan, melainkan proses psikologis atau proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berbahasa. Ketiga, sekalipun tidak menjadi fokus kajian, posisi kegiatan berbahasa dalam kajian psilinguistik strategis karena menjadi prasyarat layak atau tidaknya proses psikologis dikaji dalam psikolinguistik. Proses psikologis seseorang memenuhi kelayakan untuk dikaji dalam psikolinguistik jika terjadi dalam kegiatan berbahasa. Kebalikannya, proses psikologis seseorang tidak memenuhi kelayakan untuk dikaji dalam psikolinguistik jika terjadi di luar kegiatan berbahasa.
2. Bidang Kajian Psikolinguistik
Di bagian depan telah diuraikan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang dibentuk berdasarkan adanya interaksi antara psikologi dan linguistik. Dalam perkembangan selanjutnya dirasakan bahwa cakupan kerja sama tersebut makin meluas dan mulai bersentuhan dengan disiplin ilmu yang lain, misalnya neurologi. Dampak logis hal itu ialah makin luasnya materi yang dikaji dalam psikolinguistik. Pada saat ini, misalnya, dapat diamati bahwa psikolinguistik tidak hanya berisi kajian tentang aspekaspek psikologi dan linguistik, tetapi juga temuan-temuan dalam bidang neurologi dan sebagainya yang kemudian dikaitkan dengan linguistik. Mungkin juga munculnya kenyataan itu disebabkan oleh hal yang bersifat teknis, misalnya karena sejauh ini neurolinguistik belum menjadi disiplin ilmu tersendiri. Akibatnya, materi yang mestinya menjadi bidang garapan neurolinguistik ”dititipkan” pada psikolinguistik. Begitu juga logikanya untuk bidang ilmu lain yang titik temunya dengan linguistik belum membentuk ilmu tersendiri.
E. Hakikat linguistik dan psikolinguistik
Menurut Verhaar (2002:2) linguistik bearti bahasa kata linguistik berasal dari bahasa latin lingua dalam bahasa roman (yaitu bahasa yang berasal dari bahasa latin) masih ada kata serupa dengan lingua latin itu yaitu langue dan langage dalam bahasa prancis ,dan bahasa lingua dalam bahasa itali. Bahasa inggris memungut dai bahasa parancis kata yang kini menjadi language. Istilah linguistik dalam bahasa inggris berkaitan dengan kata language itu, istilah dalam bahasa prancis istilah linguistigue berkaitan dengan langage. Dalam bahasa Indonesia”lingistik”adalah nama bidang ilmu, dan kata sifatnya adalah “linguistis”atau linguistik”
Menurut Nababan (1992:13) sebelum kita membicarakan topik-topik yang bersifat psikolinguistik, kita akan meninjau sepintas lalu pemerian bahasa sebagaimana dilakukan dalam ilmu linguistik. Linguistik memandang dan menkaji bahasa sebagai “sistem isyarat”. Secara etimologi kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik yakni ada dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya . Linguistik mengkaji struktur bahasa sedangkan psikologi mengkaji prilaku berbahasa atau proses berbahasa.
Menurut Tarigan (1986:5) psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan namun, keduanya sama-sama bahasa sebagai objek formalnya. Inguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.
Psikolinguistik berarti : Psyche itu adalah jiwa atau roh Logo itu limu, Linguistik adalah bahasa, Psikolinguistik adalah bahasa kejiwaan. Dari uraian ringkas di atas, maka psikolinguistik berarti mencoba menguraikan proses- proses psikologi yang berlangsung jika seseorang yang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia, bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehanya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa.
Komentar
Posting Komentar