Bahasa dan otak
A. Bahasa dan Otak
Otak manusia terbagi menjadi dua belahan. Belahan kiri adalah "otak logis" dan terlibat dalam bahasa dan analisis, sedangkan belahan kanan adalah "otak kreatif" yang terlibat dalam lamunan dan imajinasi. Belahan kiri mengendalikan sisi kanan tubuh, sedangkan belahan kanan mengendalikan sisi kiri. Penelitian paling awal tentang pusat bicara dan bahasa di otak dimulai pada awal abad ke-19. Dokter mencatat bahwa pasien cedera otak dengan kerusakan pada belahan otak kiri akan kehilangan kemampuan bicara dan bahasa, sedangkan mereka yang cedera pada belahan otak kanan tidak kehilangan kemampuan ini. Penelitian terkini menunjukkan bahwa pada sekitar 97% orang, bahasa dikuasai oleh belahan otak kiri. Namun, pada sekitar 19% orang kidal, area yang bertanggung jawab untuk bahasa berada di belahan otak kanan dan sebanyak 68% dari mereka memiliki beberapa kemampuan bahasa di belahan otak kiri dan kanan.
B. Perbedaan Otak Manusia dengan Hewan
Secara fisik atau bentuk antara manusia dan hewan memang berbeda. Perbedaan itu terletak pada otaknya. Dibandingkan dengan hewan yang berukuran kecil ataupun besar tetap saja hanya manusia yang berbahasa. Bahkan manusia nanocephalic (manusia kate) yang otaknya hanya sekitar 400 gram (kira-kira sama dengan berat otak kera simpanse umur tiga tahun), manusia ini dapat berbicara secara normal sedangkan simpanse tidak (Tarigan, 1988:72). Hal ini menunjukkan bahwa hanya manusia yang dapat berbahasa atau menghasilkan tuturan (Nababan, 1992:17). Adapun ukuran berat otak manusia adalah antara 1 sampai 1.35 kg dengan rata-rata 1330 gram. Ukuran otak meskipun sekecil ini menyedot 15% dari seluruh peredarandarah dan memerlukan 20% dari sumber daya metabolik manusia (Donal J. Foss dan David T. Hakes, 1978:354).
Dari data yang ada, dijelaskan bahwa otak manusia memerlukan perhatian khusus dari badan kita. Sistem saraf manusia terdiri atas dua bagian tulang punggung dan otak. Tulang punggung terdiri atas sederetan tulang punggung yang bersambungsambungan (spinalcord). Otak sendiri juga terdiri atas dua bagian batang otak (brain stem) dan korteks serebral (cerebral cortex). Tulang punggung dan korteks serebral ini merupakan sistem syaraf yang sentral bagi manusia. Segala bentuk kegiatan manusia, baik fisik atau mental dikendalikan oleh sistem syaraf ini. Dalam otak bagian pertama ada batang otak, terdiri atas medulla, pons, otak tengah, dan cerebellum. Bagian-bagian itu berkaitan dengan fungsi fisikal tubuh termasuk pernafasan, detak jantung, gerakan, refleks, pencernaan, dan pemunculan emosi. Bagian kedua berupa korteks serebral menangani masalah fungsi-fungsi intelektual dan bahasa.
Manusia memiliki proses produksi bahasa, semua terbagi menjadi tiga bagian otak yang berperan penting, yaitu daerah Wernick yang bertanggung jawab pada “lexical meaning”atau makna arti. Kedua, daerah Broca bertanggung jawab pada “grammatical planning” atau perencanaan tata. Ketiga, daerah Motor Suplementer (supplementary motor area) yang bertanggung jawab “monitoring” atau mengawasi dan mengendalikan hasil ucapan (Suherman, 2005:259).
Ilustrasi atas ketiga daerah bagian otak di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut tugas ketiga daerah itu, alur penerimaan dan penghasilan balasan ujaran (ucapan) dapat disederhanakan sebagai berikut: ujaran didengar dan dipahami melalui daerah Wernick, kemudian isyarat ujaran itu dipindahkan ke daerah Broca untuk mempersiapkan penghasilan balasan ujaran itu. Selanjutnya sebuah isyarat tanggapan ujaran itu dikirim ke daerah motor untuk menghasilkan ujaran secara fisik. Tentunya penyederhanaan itu mengabaikan penyebutan hubungan rumit system saraf dalam memasok darah ke otak dan sifat keterkaitan fungsi-fungsi otak.
Takala manusia dilahirkan usia 0-11 tahun belum ada pembagian tugas kedua hemisfir di aatas. Setelah usia 12 tahun baru ada pembagian tugas yang dinamakan lateralisasi (Soenjono Dardjowidjojo, 2012:205). Ada daerah yang dinamakan Wernicke. Wernicke hemisfir kiri lebih luas daripada bagian yang dimiliki hemisfir kanan. Hemisfir kiri terdiri atas empat daerah besar yang dinamakan lobe, yakni Lobe frontal, lobe temporal, lobe osipital, dan lobe parietal. Keempat lobe ini masingmasing memiliki tugas. Lobe frontal bertugas mengurusi ihwal yang berkaitan dengan kognisi. Lobe temporal bertugas mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pendengaran. Lobe osipital bertugas mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan penglihatan. Lobe parietal bertugas mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan rasa somaestetik (rasa yang ada pada tangan, kaki, muka, dan anggota badan yang lainnya).
C. Penyebab Gangguan Wicara
Gangguan wicara terjadi dikarenakan adanya kerusakan pada otak. Kerusakan otak dapat disebabkan oleh aliran darah pada otak tidak cukup, atau ada penyempitan pembuluh darah, atau gangguan lain yang menyebabkan jumlah oksigen yang diperlukan berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya sebuah penyakit. Penyakit semacam ini dinamakan stroke. Penyakit stroke ini dapat berakibat pada otak. Dikarenakan adanya kontrol silang dari hemisfir kiri dan hemisfir kanan, maka stroke yang terdapat pada hemisfir kiri akan menyebabkan gangguan pada belahan badan sebelah kanan. Begitu juga sebaliknya, kalau strokenya terjadi pada hemisfir kanan, maka tubuh bagian kirilah yang akan terganggu.
Afasia sendiri dibagi menjadi lima, afasia Broca, afasia Wernicke, afasia anomik, afasia global, dan afasia konduksi. Pertama, afasia Broca adanya kerusakan pada daerah Broca. Daerah Broca ini berdekatan dengan jalur korteks motor, sehingga mengakibatkan alat-alat ujaran termasuk mulut akan terganggu. Bahkan mulut bisa mencong. Afasia Broca ini menyebabkan gangguan pada perencanaan dan pengungkapan ujaran. Untuk itulah kalimat-kalimat yang diproduksi terpatah-patah atau lafalnya tidak jelas.
Kedua afasia Wernicke, kerusakannya terletak pada daerah Wernicke, yakni bagian agak ke belakang dari lobe temporal. Korteks-korteks lain yang berdekatan bisa terkena juga. Penderita afasia Wernicke ini lancar dalam berbicara, dan bentuk sintaksisnya juga cukup baik. Hanya saja kalimat-kalimatnya sukar dimengerti, karena banyak kata yang tidak cocok maknanya dengan kata-kata sebelum dan sesudahnya. Selain itu, penderita afasia Wenricke ini juga mengalami gangguan dalam komprehensi lisan dan juga mengalami kesulitan dalam memahami apa yang orang lain katakan. Afasia Anomik menjadi bagian ketiga. Afasia ini disebabkan oleh adanya kerusakan otak terjadi pada bagian depan dari lobe parietal atau pada batas antara lobe parietal dengan lobe temporal. Afasia ini gangguan wicaranya tampak pada ketidakmampuan dalam mengaitkan konsep dan bunyi atau kata yang mewakilinya.
Keempat afasia global. Afasia ini disebabkan karena terjadi kerusakan tidak hanya pada satu atau dua daerah saja tetapi di beberapa daerah yang lain. Kerusakan ini dapat menyebar dari daerah Broca, melewati korteks motor, menuju ke lobe parietal dan sampai ke daerah Wernicke. Luka yang sangat luas ini mengakibatkan gangguan fisikal dan verbal yang sangat besar. Dari segi fisik, penderita bisa lumpuh di bagian kanannya, mulut mencong, dan lidah bisa menjadi tidak fleksibel. Dari segi verbal, penderita bisa kesukaran dalam memahami ujaran orang, dan ketika berkatakata juga tidak cukup jelas. Terakhir afasia konduksi, terjadi kerusakan pada bagian fiber-fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan lobe frontal dengan lobe temporal. Karena hubungan daerah Broca di lobe frontal yang menangani produksi dengan daerah Wernicke di lobe temporal yag menangani komprehensi terputus, maka pendertia afasia konduksi ini tidak dapat mengulang kata yang baru saja diberikan padanya.
D. Perbedaan Otak Wanita dengan Otak Pria
Mengenai otak dibedakan pula otak pria dengan otak wanita. Dari segi bentuknya, hamisfir kiri pada wanita lebih tebal dari pada hemisfir kanan. Karena hal inilah yang menyebebkan kelas bahasa pada umumnya didominasi oleh wanita. Otak wanita dan pria ketika sama-sama terserang afasia ada kecenderungan bahwa wanita berpeluang lebih besar untuk sembuh dibanding pria. Begitu halnya, saat terkena stroke, afasia lebih banyak muncul pada pria daripada wanita. Selanjutnya orang yang tidak dapat berkomunikasi melalui lisan, mereka dapat menggunakan bahasa sinyal (sign languange). Bahasa sinyal ini menggunakan tangan dan jari-jari untuk membentuk kata dan kalimat. Bahasa sinyal ini tepatnya digunakan oleh orang tuna rungu. Bahasa ini ada berbagai macam, misalnya Bahasa Sinyal Amerika dan Bahasa Sinyal Inggris (Soenjono Dardjowidjojo, 2012:207). Akan tetapi orang yang tuna rungu hemisfir kirinya kena stroke ternyata juga mengalami gangguan bahasa sama seperti yang dialami oleh penderita afasia Broka atau Wernicke manusia normal. Manusia yang menderita afasia Broca akan kesulitan dalam mensinyalkan apa yang ingin dinyatakan. Mungkin bisa dalam mensinyalkan kata, tetapi untuk gramatikalnya kacau.
Begitu juga bagi orang tuna rungu yang daerah Wernickenya terserang, mereka dapat memberikan sinyal dengan lancar tetapi maknanya tidak karuan. Gerakan tangan atau jarinya menghasilkan kata-kata namun tidak selaras dengan maknanya. Fakta lain menunjukkan untuk pengguna bahasa sinyal yang mengalami kerusakan hemisfir kanannya, ia tidak ada gangguan dalam bersinyal. Bentuk tata bahasanya masih utuh dan tidak terbata-bata.
E. Hubungan otak dengan kemampuan berbahasa manusia
Dapat disimpulkan bahwa belahan kiri otak dilibatkan dalam hubungannya dengan bahasa. Lima alasan yang mendasari kesimpulan itu. 1. hilangnya kemampuan berbahasa karen kerusakan otak sebelah kiri. 2. ketika belahan kiri otak disanastesia, kemampuan berbahasa hilang, namun ketika belahan kanan otak dianastesia kemampuan tidak hilang. 3. ketika bersaing dalam menerima input bahasa secara bersamaan melalui tes menyimak dikotis, telinga kanan lebih unggul 4. ketika materi bahasa disajikan melalui penglihatan kanan dan kiri makan penglihatan kanan lebih tepat dan cepat dalam menangkap materi 5. pada saat melakukan kegiatan berbahasa, baik secara terbuka atau tertutup, belahan otak kiri menunjukkan kegiatan elektris yang lebih hebat.
F. Kesimpulan
Berkaca pada uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk manusia, baik yang normal maupun yang cacat pendengaran (tuna rungu) jika mengalami kerusakan pada hemisfir kiri tentulah mengalami gangguan wicara. Berbeda dengan hemisfir kanan yang terganggu, mereka tetap dapat berbahasa, meskipun menemui kesulitan dalam mengurutkan sebuah cerita dan menarik inferensi. Akibat yang ditimbulkan dari kerusakan otak adalah penyakit stroke. Bila penderita stroke yang terserang adalah hemisfir kirinya maka akan mengalami gangguan wicara, ini dinamakan afasia. Hal sama juga terjadi pada tuna rungu. Mereka yang hemisfir kirinya kena stroke juga akan mengalami gangguan dalam berbahasa.
Komentar
Posting Komentar