Ideologi Penerjemahan

 A. Pengertian Ideologi

    Secara umum, ideologi adalah suatu prinsip yang dipercayai kebenarannya oleh sebuah komunitas dalam suatu masyarakat. Menurut Hatim dan Mason (1997) ideologi adalah asumsi, keyakinan dan sistim nilai yang dimiliki secara kolektif oleh sebuah masyarakat atau kelompok sosial tertentu (Basil & Mason, 1997:56). Sementara menurut Hoed (2003:23) ideologi adalah suatu prinsip yang dipercayai kebenarannya dalam sebuah komunitas dalam sebuah masyarakat. Dalam bidang kajian bahasa, budaya dan penerjemahan, pengertian ideologi bisa diperluas di luar konteks politik dan didefinisikan secara bebas politik sebagai seperangkat ide yang mengatur kehidupan manusia yang membantu kita memahami hubungan kita dengan lingkungan kita (Karuobi, 2008). Masih menurut Karouby sebagian besar orang dalam komunitas penerjemahan masih menganggap ideologi dalam pengertiannya yang sangat sempit.

B. Ideologi dalam Penerjemahan

    Penerjemahan merupakan reproduksi pesan yang tekandung dalam teks sumber. Hoed mengutip pernyataan Basnett dan Lefevere bahwa apapun tujuannya, setiap reproduksi selalu dibayangi oleh ideologi tertentu. Penerjemah tidak bisa terlepas dari pengaruh ideologi. Posisi penerjemah berada pada "antara". Dia bertindak netral, tidak memihak ke salah satu pihak yang terlibat dalam proses komunikasi bilingual itu    

    Ideologi yang ada dalam suatu masyarakat sangat berpengaruh pada penerjemahan mengingat penerjemah itu adalah bagian dari anggota masyarakat dan terjemahan juga ditujukan pada masyarakat. Dalam penerjemahan ideologi juga beperan dalam proses penerjemahan karena terjemahan berasal dari bahasa berbeda dengan latar budaya berbeda yang tentu memiliki banyak perbedaan terhadap kelompok masyarakat lainnya

    Ideologi dalam penerjemahan adalah prinsip atau keyakinan tentang benar-salah dan baik-buruk dalam penerjemahan, yakni terjemahan seperti apa yang terbaik bagi masyarakat pembaca bahasa target atau terjemahan seperti apa yang cocok dan disukai masyarakat tersebut.(Hoed, 2003:3). Sebagian penerjemah menganggap bahwa penerjemahan dikatakan benar bila teks terjemahan telah menyampaikan pesan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa target secara tepat. Keberterimaan kemudian menjadi sesuatu yang tidak diperhatikan. Sebagian yang lain menganggap teks terjemahan yang benar adalah teks terjemahan dengan keberterimaan yang tinggi, teks terjemahan yang memenuhi kaidah-kaidah bahasa sasaran baik kaidah gramatika maupun kaidah kultural.

    Ada dua ideologi dalam penerjemahan yaitu foreignisasi dan domestifikasi. Pada foreignisasi penerjemah memilih untuk mempertahankan konsep-konsep atau istilah yang ada pada bahasa sumber. Sebaliknya pada domestifikasi penerjemah mempertahankan konsep-konsep yang ada pada bahasa target. Sesungguhnya tidak mudah bagi seorang penerjemah untuk ‘berideologi’ foreignisasi saja atau domestifikasi saja. Yang terjadi adalah adanya kecenderungan foreinisasi atau kecenderungan domestikasi. Dalam penerjemahan selalu ada foreignisasi dan domestikasi, dan sedikit atau banyak penggunaannya menjadi pilihan penerjemah dengan berbagai pertimbangan.

1. Ideologi domestifikasi 

    Ideologi domestifikasi berorientasi pada bahasa target dan meyakini bahwa terjemahan yang "betul", "berterima", dan "baik" adalah yang sesuai dengan selera dan harapan pembaca yang menginginkan teks terjemahan sesuai dengan kebudayaan (citarasa) masyarakat bahasa target. Ideologi ini bertujuan untuk memenuhi keinginan pembaca, yaitu membaca suatu terjemahan tanpa terasa bahwa yang dibaca itu sebenarnya merupakan terjemahan.

    Intinya, suatu terjemahan diharapkan tidak terasa seperti terjemahan. Oleh karena itu, penerjemah menentukan apa yang diperlukan agar terjemahannya tidak dirasakan sebagai karya asing bagi pembacanya. Bagi penganut ideologi domestifikasi, kata-kata asing seperti Mr, Mrs, Uncle, Aunt dan sebagainya harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar keseluruhan terjemahan hadir sebagai bagian dari bahasa Indonesia sehingga berterima di kalangan pembaca bahasa target. Ia akan berusaha memperkenalkan kebudayaan Indonesia pada dunia luar karena baginya penerjemahan yang betul adalah yang berterima dalam bahasa target dan tidak menghadirkan sesuatu yang asing.

    a). Kelebihan dan kekurangan ideologi demostifikasi

       Ideologi dometifikasi dalam penerjemahan memiliki kelebihan dan kekurangan pada penerapannya. Berikut kelebihan dan kekurangan ideologi domestifikasi dalam penerjemahan.

    Kelebihan ideologi domestifikasi: 

1) Hasil terjemahan lebih enak (lancar) dibaca. Kadang pembaca tidak merasakan kalau yang sedang dibacanya itu merupakan karya terjemahan. 

2) Menimbulkan kesan keakraban bagi pembaca terjemahan karena penerjemah menghadirkan istilah-istilah yang sudah dikenal oleh pembaca terjemahan. 

3) Lebih praktis karena penerjemah tidak perlu mengaplikasikan teknik penerjemahan tertentu (misalnya memberikan penjelasan yang detil dan panjang) untuk mengungkapkan kembali pesan dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

4) Pembaca teks bahasa sasaran dapat memahami teks terjemahan dengan mudah. 

5) Teks terjemahan terasa natural dan komunikatif. 

6) Memungkinkan terjadinya asimilasi budaya.

    Kekurangan ideologi domestifikasi: 

1) Pengetahuan pembaca tentang kebudayaan bahasa sumber tidak bertambah. Bisa saja pembaca tidak menyadari bahwa yang dibacanya itu sebenarnya merupakan karya terjemahan. 

2) Hasil terjemahan terkadang ada yang menimbulkan distorsi makna (penyimpangan makna). 

3) Tidak dapat menghadirkan suasana asli dari bahasa sumber. 

4) Aspek-aspek budaya dalam bahasa sumber sering kali pudar. 

5) Pembaca teks bahasa sasaran tidak bisa memberikan interpretasi terhadap teks, karena interpretasi sudah dilakukan oleh penerjemah.

6) Pembaca teks bahasa sasaran tidak mendapatkan pengetahuan budaya bahasa sumber.


2. Ideologi Foreignisasi

    Ideologi foreignisasi berorientasi pada penerjemahan yang “betul”, “berterima”, dan “baik” adalah yang sesuai dengan selera dan harapan harapan pembaca, penerbit, yang menginginkan kehadiran kebudayaan bahasa sumber atau yang menganggap kehadiran kebudayaan bahasa sumber bermanfaat bagi masyarakat.Tujuan ideologi foreignisasi adalah menerjemahkan dengan menghadirkan nilai-nilai bahasa sumber. Agar masyarakat pembaca diperkaya pengetahuannya dengan membaca sesuatu yang asing. Walaupun teks telah diterjemahkan ke dalam bahasa target namun suasana dan budaya bahasa sumber dimungkinkan untuk tetap ada. Hal ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan tambahan kepada para pembaca tentang fenomena dan budaya asing. Nilai-nilai bahasa sumber tetap dijaga keberadaannya.

    Pada ideologi foreignisasi penerjemah sepenuhnya berada di bawah kendali penulis teks sumber. Di sini yang menonjol adalah suatu aspek kebudayaan asing yang diungkapkan dalam bahasa pembaca. Misalnya, seorang penerjemah tidak menerjemahkan kata-kata Mr, Mrs, Mom, Dad dan sejumlah kata asing lainnya dalam penerjemahan dari bahasa Inggris dengan alasan sapaan seperti itu tidak lagi asing bagi pembaca Indonesia. Ini merupakan ciri bahwa penerjemah tersebut penganut ideologi foreignisasi.

    a). Kelebihan dan Kekurangan ideologi foreignisasi

    Sama halnya dengan Ideologi dometifikasi, ideologi foreignisasi dalam penerjemahan juga memiliki kelebihan dan kekurangan pada penerapannya. Berikut kelebihan dan kekurangan ideologi foreignisasi dalam penerjemahan. 

    Kelebihan ideologi foreignisasi:

1) Menambah/memperkaya pengetahuan pembaca akan kebudayaan bahasa sumber. 

2) Menghadirkan kesan eksotis, karena penerjemah menampilkan istilah-istilah kebudayaan bahasa sumber yang belum dikenal secara luas oleh pembaca. Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri bagi pembaca. 

3) Dapat mengasah imajinasi pembaca. 

4) Pembaca teks bahasa sasaran bias memahami budaya bahasa sumber. 

5) Teks terjemahan bisa menghadirkan nuansa budaya bahasa sumber. 

6) Memungkinkan terjadinya intercultural learning.

    Kekurangan ideologi foreignisasi: 

1) Ketika menerjemahkan istilah-istilah kebudayaan bahasa sumber biasanya harus didukung oleh metode/teknik penerjemahan tertentu (seperti penjelasan tambahan, catatan kaki dan sebagainya) agar pesan dalam bahasa sumber dapat tersampaikan ke dalam bahasa target. Cara seperti ini kadang dianggap kurang praktis. 

2) Pembaca terkadang kurang bisa memperoleh gambaran melalui penjelasan yang diberikan oleh penerjemah terhadap istilah-istilah dalam kebudayaan bahasa sumber. 

3) Jika dibandingkan dengan ideologi domestifikasi, hasil terjemahan menjadi kurang enak (lancar) dibaca. 

4) Pembaca teks sasaran mungkin merasa asing dengan beberapa istilah. 

5) Teks bahasa sasaran kadang terasa kompleks dan tidak natural dalam penggunaan bahasanya.

6) Aspek-aspek negatif budaya dalam bahasa sumber bisa mudah masuk dan berpengaruh pada pembaca.

C. Ideologi lain dalam penerjemahan

    Ideologi penerjemahan sebagaimana yang dibahasa di atas sebagai suatu pandangan dan keyakinan yang dimiliki penerjemah dalam proses penerjemahan yang mempengaruhi hasil terjemahannya. Selain dari pembahasan itu penulis juga membahas ideologi lain yang sering diterpakan penerjemah.

1) Ideologi gender (Sexism ideology) 

    Dalam penerjemahan kajian mengenai seksisme dalam teks wacana dapat dilihat pada tulisan Lakoff (1975) yang menggambarkan adanya ideologi pembedaan jender yang merendahkan wanita dalam tataran kebahasaan (Machali). Secara sosiolinguistik hal ini juga disadari bahwa dalam masyarakat terbentuk suatu streotipe bahwa wanita cenderung memperoleh atribut lemah, penurut, pasif (ibid:125) bahkan jika dilihat di kamus beberapa imej negatif juga lebih banyak dilekatkan pada wanita. Sementara laki-laki cenderung memperoleh atribut perkasa, aktif, pengambil inisiatif dan sederet imej positif lain. Pandangan yang terbentuk dalam masyarakat tersebut berbeda untuk masing-masing budaya. Hal ini juga merupakan produk budaya bukan dari sifat alamiah. Di negara-negara Barat isu kesetaraan jender ini telah banyak di-angkat sehingga penggunaan kata-kata yang merujuk pada seksisme dihindari. Seperti penggunaan kata-kata police-man, fireman, chairman tidak lagi digunakan, digantikan dengan kata police of icer, fire fighter, chair person karena pekerjaan tersebut tidak hanya identik bagi laki-laki. Sementara, di Indonesia hal ini masih belum begitu kentara. 

2) Ideologi dan politik dalam terjemahan 

    Rubel dan Rosman (2003:6) selanjutnya mengemukakan bahwa hirarki, hegemoni and dominasi budaya sering tercermin dalam terjemahan, terutama pada teks-teks yang dilaksanakan pada saat masa kolonial dan juga pada terjemahan yang dihasilkan pada masa poskolonial. Lebih lanjut menurut Cronin dalam penerjemahan teks asing juga tercermin ideologi dan agenda politik dari budaya sasaran “Translation relationships between minority divorced from issues of power andidentity, that in turn destabilizeuniversalist theoretical prescriptions on the translation process”.

    Dari pendapatnya tergambar bahwa hubungan-hubungan bahasa minoritas dan mayoritas jarang dapat dipisahkandari isu kekuasaan dan identitas, hal ini muncul dalam proses penerjemahan. Selain itu ideologi atau kekuasaan negara juga muncul dan tercermin dalam karya terjemahan.

3) Ideologi agama dalam penerjemahan 

    Penerjemahan juga dipengaruhi oleh ideologi agama. Teks yang mencederai agama sering ditolak oleh masyarakat, Perbedaan ideologi ini biasanya muncul pada teks yang bersinggungan dengan kepercayaan dan agama. Seperti tulisan Salman Rushdie “Satanic Verses” tidak akan diterima jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini juga terjadi di Jepang sehingga berakhir pada pembunuhan penerjemahnya (Fawcett).Selain itu, ideologi (religioousidelogy) juga mewarnai bentuk terjemahan yang berfungsi dalam keagamaan. Misalnya (Nida & Taber, 1982) cenderung mendukung ideologi domestikasi karena bertujuan keberterimaan dan kepahaman pembaca terhadap Alkitab sebagai teks sacral (Venuti,1995:21)). Hal yang sama juga dipercayai oleh teolog Prancis. Francis yang menolak terjemahan literal Kitab Perjanjian Lama. Mungkin juga teks yang berisi ideologi komunis atau sosialis dapat memanfaatkan teknik TAP (Think-Aloud Protocol) dan wawancara untuk menggali data tentang proses pengambilan keputusan sebagai objek utama kajian mereka. Berdasarkan informasi ini peneliti dapat menggali ideologi yang melatar belakangi penerjemah dalam membuat terjemahan.

D. Penutup

    Ideologi dalam terjemahan adalah keyakinan dan pandangan penerjemah terkait dengan penerjemahanya yang baik dan benar yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Ada dua ideologi dalam terjemahan yaitu pertama ideologi yang berorientasi ke bahasa sumber yang disebut foreignisasi (foreignization) dan ideologi yang berorientasi ke bahasa target yakni ideologi domestikasi (domestication). Kedua ideologi ini akan mengarahkan penerjemah selama proses penerjemahan dalam pemilihan metode hingga strategi yang ia gunakan. Jika dikaitkan dengan tujuan komunikasi sebenarnya kedua ideologi ini sama sama ingin mengkomunikasikan pesan yang ada dalam bahasa sumber ke bahasa target namun memiliki cara yang berbeda. Selanjutnya ideologi lain dalam terjemahan yakni ideologi kesetaraan gender, ideologi politik dan ideologi agama dalam terjemahan.

NB:Referensi_file:///C:/Users/HALLO/Downloads/Ideologi%20Dalam%20Penerjemahan%20Bahasa.pdf







Komentar

Postingan populer dari blog ini

fungsi menu review pada microsoft word

fungsi menu mailings

Fungsi menu layout dan references